takhrij hadist
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadist
Islam di bangun atas lima landasan yaitu
syahadat, sholat, zakat, puasa , haji. Bahwa agama dibangun atas lima landasan
tersebut atau disebut tiang penyangga, tanpa satupun tiang tersebut maka akan
roboh bangunan/hancurnay agama.
Islam dibangun atas lima landasan terdapat
pada hadist Imam Bukhori yaitu sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ
اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ
بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ
خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى
خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ
اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ
رَمَضَانَ
(BUKHARI - 7) :
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan
kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar
berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun
diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya
Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa
Ramadlon.
B.
Asbabul Wurud
Secara
etimologis ” asbabul wurud ” merupakan susunan idlofah, yang berasal dari kata
asbab dan wurud. Kata ” asbab adalah bentuk jama’ dari kata “sabab”, yang
berarti segala sesuatu yang dapat mehubungkan pada sesuatu yang lain, (sunan
turmudzi dalam kitab thoharoh: 1/151.) atau penyebab terjadinya sesuatu.
Sedangkan kata “wurud” merupakan bentuk isim masdar dari waroda, yaridu,
wuruudan yang berarti dating atau sampai .(Shohih Bukhori dalam kitabul ilmi:
1/23)
Secara
terminologi menurut As-suyuti asbabul wurud diartikan sebagai berikut:
“sesuatu yang menjadi metode untuk menentukan maksud suatu hadits yang bersifat umum, khusus, mutlak, muqoyyad, dan untuk menentukan ada dan tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadits”.(Musnad Ahmad: VI/3)
Jika diteliti secara kritis pendefinisian As-suyuti lebih mengacuh kepada fungsi asbab wurudul hadits yakni, untuk menentukan tahsish dari yang ‘amm (umum), membatasi yang mutlak, serta untuk menentukan ada dan tidaknya naskh dan mansukh dalam suatu hadits dan lain sebagainya Nampaknya kurang tepat jika pendefinisian tersebut dipakai untuk merumuskan pengertian asbabul wurud. Menurut hemat saya perlu menoleh pada pendapat Hasbi as-sidiqi beliau mendefinisikan sebagai berikut1:
“sesuatu yang menjadi metode untuk menentukan maksud suatu hadits yang bersifat umum, khusus, mutlak, muqoyyad, dan untuk menentukan ada dan tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadits”.(Musnad Ahmad: VI/3)
Jika diteliti secara kritis pendefinisian As-suyuti lebih mengacuh kepada fungsi asbab wurudul hadits yakni, untuk menentukan tahsish dari yang ‘amm (umum), membatasi yang mutlak, serta untuk menentukan ada dan tidaknya naskh dan mansukh dalam suatu hadits dan lain sebagainya Nampaknya kurang tepat jika pendefinisian tersebut dipakai untuk merumuskan pengertian asbabul wurud. Menurut hemat saya perlu menoleh pada pendapat Hasbi as-sidiqi beliau mendefinisikan sebagai berikut1:
C.
“Ilmu
yang menerangkan sebab-sebab Nabi SAW.menuturkan firmannya dan masa-masa Nabi
SAW.menuturkannya”(Imam Malik, dalam kitab Al-jumah: 1/102).
D.
Sebagian
ulama berpendapat bahwa pengertian asbabul wurud mirip dengan pengertian
asbabul nuzul
E.
“Sesuatu
baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan yang terjadi pada
waktu hadits itu di firmankan oleh Nabi SAW”.(Al-bukhori kitab mawakit
as-sholah: 1/346).
F.
Dari
ketiga definisi tersebut bisa disimpulkan bahwa asbabul wurud adalah konteks
historisitas, baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan yang
lainnya yang terjadi pada saat hadits tersebut di sabdakan oleh Nabi SAW, dapat
berfungsi sebagai acuan analisis dalam menentukan apakah hadits tersebut
bersifat khusus, umum, mutlak atau muqoyyad, naskh atau mansukh dan lain
sebagainya.
G.
Adapun
sasaran dalam mempelajari ilmu ini adalah Setiap hadits yang secara tegas
mempunyai asbabul wurud.
Menurut Imam As-Suyuthi
asbabul wurud itu dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu: 1) sebab yang
berupa ayat al-Qur’an, 2) sebab yang berupa Hadits itu sendiri 3) sebab yang
berupa sesuatu yang berkaitan dengan para pendengar dikalangan sahabat.
Sebab-sebab
turunnya hadist Bukhori dalam kitab iman
bab 2 ini karena adanya firman Allah swt
dalam surat Al-Bayyinah tentang
dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, sehingga muncullah sabda Rasulullah
untuk memperkuat isi kandungan dalam Al-Quran surat Al-Bayyianah ayat ke 5.
Berikut isi surat Al-Bayyinah :
وَمَآ
أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus[1].
C.
Takhrij Hadits
1.
Takhrij Matan
Pengertian takhrij hadits dapat
ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi etimologi dan terminlogi. Dari segi
etimologi, kata takhrij تَخْرِيْج) (berasal dari
kata kharraja (خَرَّجَ) yang berarti tampak atau
jelas. Seperti: خَرَّجَتْ
خَوَارِجُ فُلاَنٍ
artinya: "si fulan tampak kepandaiannya" dan خَرَّجَتِ
السَّمَاءُ خُرُوْجًا artinya:
"langit tampak cerah setelah mendung". [2]
Sejalan
dengan pendapat di atas, at-Thahhan[3]
berpendapat bahwa takhrij ditinjau dari segi etimologi berarti al-istinbath
(mengeluarkan), al-tadrib (meneliti, melatih dan memperdalam) dan al-tawjih
(menerangkan, memperhadapkan dan menampakkan). Lebih lanjut, at-Thahhan
berpendapat bahwa takhrij dari segi terminologi adalah:
D.
التخريج
هوالدلا لةعلى موضع الحديث فىمصادرالاصلية التىاخرجته بسنده ثم بيان مرتبته
عندالحاجة
E. Artinya: "Takhrij ialah penunjukkan
terhadap tempat hadits dalam sumber-sumber aslinya yang dijelaskan sanadnya dan
martabatnya sesuai dengan keperluan[4]
[5]
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ
اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ
بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى
خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ
اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ
رَمَضَانَ
Setelah dilacak dalam Al-Mu’jam Al-Mufahras
li Afazh Al-Hadits Al-Nabawi,
hadits diatas terdapat dalam beberapa kitab berikut ini[6]:
1. Shahih
Bukhari kitab iman (1) nomor urut bab 2,
dan kitab buyu’ (jual beli) nomor urut bab 68
2. Shahih
Muslim nomor urut bab 19-22
3. Sunan al-Tirmidzi kitab iman bab 3
4. Sunan al-Nasa’i kitab iman nomor urut
bab 13
Berikut yang menjadi penguat dari Hadist Imam Al-Bukhari
tentang Buniyal Islam ( Islam dibangun atas lima landasan) tentang iman :
a. Berikut
ini bunyi hadits riwayat Bukhari
1) Kitab
iman nomor urut bab 2
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ
اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ
بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ
خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى
خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ
اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ
رَمَضَانَ[7]
Telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan
kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar
berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan);
persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan".
2) Kitab
buyu’ (jual beli) nomor
urut bab 68
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ
إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ سَمِعْتُ جَرِيرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى
شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالنُّصْحِ
لِكُلِّ مُسْلِمٍ[8]
Telah
menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami
Sufyan dari Isma'il dari Qais aku mendengar Jarir radliallahu 'anhu berkata:
"Aku berbai'at kepada Rasulullah saw untuk bersyahadah Laa ilaaha illallah
wa anna Muhammadar rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar
dan tho'at serta setia kepada setiap muslim".
b. Berikut ini bunyi hadits dalam Shahih
Muslim nomor urut bab 19-22
1) Nomor 19
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَعْنِي
سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ الْأَحْمَرَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ سَعْدِ
بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ ابْنِ عُمَرَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ
الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ فَقَالَ رَجُلٌ
الْحَجُّ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ لَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَالْحَجُّ هَكَذَا سَمِعْتُهُ
مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ[9]
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair al-Hamdani telah
menceritakan kepada kami Abu Khalid -yaitu Sulaiman bin Hayyan al-Ahmar- dari
Abu Malik al-Asyja'i dari Sa'ad bin Ubaidah dari Ibnu Umar dari Nabi saw.,
beliau bersabda: "Islam dibangun di atas lima dasar: Yaitu agar Allah
diesakan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan
haji." Seorang laki-laki bertanya, 'Apakah haji dan (lalu) puasa Ramadhan'.
Beliau menjawab: 'Tidak, puasa Ramadhan dan (lalu) haji.' Demikianlah aku
mendengarnya dari Rasulullah saw."
2) Nomor 20
و حَدَّثَنَا سَهْلُ
بْنُ عُثْمَانَ الْعَسْكَرِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّاءَ حَدَّثَنَا سَعْدُ
بْنُ طَارِقٍ قَالَ حَدَّثَنِي سَعْدُ بْنُ عُبَيْدَةَ السُّلَمِيُّ عَنْ ابْنِ عُمَرَعَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ
عَلَى أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَيُكْفَرَ بِمَا دُونَهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ
الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ[10]
Telah
menceritakan kepada kami Sahl bin Utsman al-Askari telah menceritakan kepada
kami Yahya bin Zakariya telah menceritakan kepada kami Sa'ad bin Thariq dia
berkata, telah menceritakan kepadaku Sa'ad bin Ubaidah as-Sulami dari Ibnu Umar
dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau berkata: "Islam didirikan
di atas lima dasar: Yaitu agar Allah disembah dan agar selainnya dikufurkan,
mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji di Baitullah, dan berpuasa Ramadhan."
3) Nomor urut 21
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ
اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عَاصِمٌ وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدِ
بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ
الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ[11]
Telah
menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz telah menceritakan kepada kami
bapakku telah menceritakan kepada kami Ashim -yaitu Ibnu Muhammad bin Zaid bin
Abdullah bin Umar- dari bapaknya dia berkata; Abdullah berkata,
"Rasulullah sawbersabda: "Islam dibangun atas lima dasar: Yaitu
persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah, bahwa
Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan."
4) Nomor urut 22
و حَدَّثَنِي ابْنُ
نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حَنْظَلَةُ قَالَ سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ خَالِدٍ
يُحَدِّثُ طَاوُسًا أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَلَا تَغْزُو
فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
إِنَّ الْإِسْلَامَ بُنِيَ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ[12]
Dan telah
menceritakan kepadaku Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah
menceritakan kepada kami Hanzhalah dia berkata, "Saya mendengar Ikrimah
bin Khalid menceritakan hadits kepada Thawus bahwa seorang laki-laki berkata
kepada Abdullah bin Umar, 'Mengapa kamu tidak berperang? ' Dia menjawab,
'Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah sawberkata: 'Sesungguhnya Islam
didirikan di atas lima dasar: Persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak
disembah selain Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan,
dan berhaji ke Baitullah'."
c. Berikut ini bunyi hadits dalam Sunan
al-Tirmidzi kitab iman nomor urut bab 3
حَدَّثَنَا ابْنُ
أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ سُعَيْرِ بْنِ الْخِمْسِ التَّمِيمِيِّ
عَنْ حَبيِبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى
خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ
اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ
الْبَيْتِ وَفِي الْبَاب عَنْ جَرِيرِ بْنِ
عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ
مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا وَسُعَيْرُ بْنُ الْخِمْسِ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ
الْحَدِيثِ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ
أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيِّ عَنْ
ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ[13]
Telah
menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan
bin Uyainah dari Su'air bin al Khims at Tamimi dari Habib bin Abi Tsabit dari
Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah saw bersabda: "Islam dibangun atas lima
dasar: persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah,
dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa
Ramadhan, dan haji ke Baitullah." Dan dalam bab tersebut (juga
diriwayatkan) dari Jarir bin Abdullah. Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan
shahih. Dan ia telah diriwayatkan dari bukan hanya satu jalan, dari Ibnu Umar,
dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalam seperti ini. Sedangkan Su'air bin al
Khims adalah seorang yang tsiqah menurut ahli hadits. Abu Kuraib menceritakan
kepada kami, Waki' telah menceritakan kepada kami, dari Hanzhalah bin Abi
Sufyan al Jumahi, dari Ikrimah bin Khalid al Makhzumi dari Ibnu Umar dari Nabi saw.,
semisalnya." Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan shahih.'
d. Sunan al-Nasa’i kitab iman dan syaratnya nomor urut bab 13
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْمُعَافَى يَعْنِي ابْنَ عِمْرَانَ عَنْ حَنْظَلَةَ
بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ
لَهُ أَلَا تَغْزُو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصِيَامِ
رَمَضَانَ[14]
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin
'Ammar, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Mu'afa yaitu Ibnu Imran
dari Hanzhalah bin Abu Sufyan dari Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar bahwa
seorang laki-laki berkata kepadanya; Kenapa kamu tidak berperang?" Ibnu
Umar menjawab; "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: "Islam
terbangun atas lima perkara, yaitu; bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak
disembah kecuali Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, melakukan haji, dan
berpuasa Ramadhan."
2.
Takhrij Sanad
Dalam
analisis ini sebagai sampel, penulis menganalisa sanad hadits dari Shahih Bukhari kitab
iman nomor urut bab 2
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ
اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ
بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ
خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى
خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ
اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ
رَمَضَانَ[15]
Sanad hadits jalur Ibn ‘Umar
|
Nama Perawi
|
Urutan sebagai perawi
|
Urutan sebagai sanad
|
|
Ibn ‘Umar
|
Periwayat I
|
Sanad IV
|
|
‘Ikrimah Ibn Khalid
|
Periwayat II
|
Sanad III
|
|
Hanzhalah bin Abi Sufyan
|
Periwayat III
|
Sanad II
|
|
Ubaidullah bin Musa
|
Periwayat IV
|
Sanad I
|
|
Bukhari
|
Periwayat V
|
Mukharij al-Hadits
|
Skema sanad hadits jalur Ibn ‘Umar
|
Rasulullah saw.,
|
|
|
|
|
|
|
|
Qala
akhbarana
|
|
|
|
Al-Bukhari
|
· Perawi
dan Penelitian Ulama Hadits
1.
Ubaidullah bin Musa
|
|
2.
Hanzhalah bin Abi Sufyan
|
|
3.
‘Ikrimah Ibn Khalid
|
|
4.
Ibn ‘Umar
|
|
D. ANALISIS
Supaya mengetahui lebih jelas jalur periwayatan hadist, maka dalam
pembahasan makalah ini penulis melakukan analisis dari takhrij matan dan sanad
nya. Pertama pada takhrij matan yang
diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari tentang Buniyal Islam bahwa islam dibangun
atas lima landasan ini dikatakan kuat karena dilihat dari para perawinya juga
telah meriwayatkan tentang hadis ini seperiti Shahih Muslim dalam kitabnya iman no urut 19-22,
kemudian Tirmidzi dan An-Nasai sehingga dapat memperkuat hadist tersebut.
Kemudian setelah dilakukannya takhrij Matan, supaya mengetahui lebih jelas
bagaimana jalur periwayatannya dari siapa hadist ini diriwayatkan maka
dialakukanlah tahkrij sanad. Disitu akan dijelaskan alur perawi yang
meriwayatkannya, apakah yang meriwayatkan hadist tersebut kuat hafalannya maka
disitu akan diberikan komentar ulama, apakah perawi ini mempunyai guru dan
murid yang sambung atau muttasil, oleh karena itu diberikan tahun kelahiran dan
wafatnnya.
Setelah menganalisis dari hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari
tenatang Iman, hadist ini dikategorikan sebagai hadist yang kuat/tsiqoh, karena
ada 5 hadist yang memperkuat hadist tersebut dari para perawinnya selain itu
dari segi sanad yang mutasil/sambung dan komentar mayoritas tsiqoh.
E. SYARAH HADIST
عَنْ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ
وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima
(tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan
shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan”. [HR Bukhari, no. 8].
hadist ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari hadist sebelumnya. Dimana islam di gambarkan secara aflikatif dengan ungkapan seperti engkau bersaksi... pada hadist ini islam di gambarkan sebagai bangunan kokoh dan tegak diatas landasan yang mantab. Landasan itu berupa syahadat, sholat , zakat, haji dan puasa romadhon.
hadist ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari hadist sebelumnya. Dimana islam di gambarkan secara aflikatif dengan ungkapan seperti engkau bersaksi... pada hadist ini islam di gambarkan sebagai bangunan kokoh dan tegak diatas landasan yang mantab. Landasan itu berupa syahadat, sholat , zakat, haji dan puasa romadhon.
PENJELASAN
Islam dibangun atas lima pilar utama,
bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah SWT dan Muhammad
adalah utusanya. Landasan pertama
bangunan islam adalah syahadat. Syahadat merupakan hal yang paling penting
dalam islam, setidaknya ada beberapa alasan :
1. Syahadat merupakan
pintu masuk ke dalam bangunan islam itu islam.
2. Syahadat adalah inti
sari dalam ajaran islam
3. Syahadat adalah dasar
perubahan
4. Syahadat adalah inti
dakwah para rosul.
5. Syahadat merupakan
sumber keutamaan, berupa sorga bagi yang meyakini kandungannya
Kemudian, terdapat tujuh syarat utama yang merupakanunsur kesempurnaan
Syahadat. Jika semua terwujud, akan melahirkan pribadi muslim yang mumpuni dan
integral. Ketujuh syarat itu adalah :
1. Ilmu tan menghilangkan
kebodohan
2. Keyakinan yang
menghilangkan keraguan.
3. Penerimaan yang
menjauhkan penolakan
4. Ketundukkan yang
menjauhkan sikap acuh.
5. Ikhlas yang melebur
kesyirikan
6. Ketulusan yang akan
melebur kepalsuan
7. Kecintaan yang
menghapus kebencian.
MENEGAKKAN SHOLAT
Sholat merupakan pilar
kedua dalam islam. Urgensinya tidak lagi diragukan oleh umat muslim. Shalat
memiliki tujuan utama berupa mencegah perbuatan keji dan munkar. Untuk bisa
mewujudkan tujuan dasar ini shalat memeliki perangkat-perangkat berupa:
Syarat-syarat :
1. Membersihkan anggota
tubuh
2. Menutup aurat dengan
pakaian yang bersih
3. Memilih tempat yang
bersih
4. Mengetahui masuk waktu
sholat
5. Menghadap kiblat
Rukun-rukun
1. Niat
2. Berdiri jika mampu
3. Takbirotul ihrom
4. Membaca Al-Fatihah
5. Ruku
6. Bangkit dari rukuk
7. Sujud
8. Sujud diantara dua
sujud
9. Tasyahud
10. Bershalawat kepada
nabi
11. Mengucap salam
12. Tumakninah
13. Tertib[16]
MENUNAIKAN ZAKAT
Zakat adalah harta
yang ditunaikan untuk kaum lemah. Zakat bertujuan untuk membersihkan noda-noda
harta yang di miliki maupun mensterilkan sang pemberi
Zakat dari sikap bakhil. Tujuan ini terekam dalam firman Allah swt yang
berbunyi : Ambilah zakat dari sbagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa
kamu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah maha mendengar lagi maha
mengetahui.
Menunikan zakat memiliki beberapa urgensi, di antaranya adalah :
·
Zakat merupakan sebab turunya rahmat Allah swt.
·
Zakat salah satu penyebab kembalinya kekuasaan islam kepangkuan umat muslim
·
Zakat merupakan penyebab masuknya seseorang kedalam sorga
·
Menghilangkan unsur kejelekan yang dimiliki suatu barang
MENUNAIKAN HAJI
Haji merupakan piranti
penting dalam bangunan islam. Ia dianggap jihad yang tidak mengandung resiko
oleh rosulullah shalallahu ngalaihi wasalam. Bahkan ketika para wanita
menghadap kepada beliau mengajukan keberatan akan banyaknya ibadah yang bisa di
akses oleh kaum laki-laki. Rasulullah alahi wasalam mengarahkan mereka kepada
ibadah haji yang merupakan dianggap jihad oleh kaum wanita. Haji memiliki
beberapa keutamaa :
1. Termasuk rukun ibadah
yang di utamakan
2. Pembersih dosa dan
kesalahaan
3. Penyebab mendapatkan
sorga Allah swt
4. Merupakan jihadnya
kaum lemah seperti wanita dan orang tua.
BERPUASA DALAM BULAN ROMADLON
Puasa artinya menahan
dari sisi syariaat maknanya berupa menahan segala hal yang dapat merusak puasa
dalam segala hal yang dapat merusak puasa dari sejak imsak sampai matahari
terbenam. Keutamaan puasa dari segi kejiwaan dan kesehatan jasmani telah banyak
di sorot oleh ilmuan. Sedang menurut islam sendiri keutamaan itu berupa :
1. Puasa ditentukan oleh
Allah pahalanya sendidri
2. Merupakan perisai dari
perbuatan zina
3. Puasa berperan sebgai pemberi syafaat pada hari
kiamat
4. Menjauhkan seseorang
dari api neraka
5. Puasa memiiki pintu
khusus di surga yang merupakan jalor masuk bagi mereka yang gemar berpuasa.
Pintu itu bernama Ar-Rayyan.
Demikian bangunan
islam yang disarikan dari hadist di atas. Wallahu a’lam. Kita berharap agar
Allah swt memudahkan kita untuk terus menerus komitmen dengan pilar-pilar
agamanya. Amin
E. KOMENTAR KAUM ORIENTALIS
Dalam tradisi
keilmuan, khususnya dilihat dari aspek kawasan, terdapat dua kawasan, yaitu
Barat dan Timur. Dunia Barat diwakili oleh negara-negara Barat seperti Belanda,
Inggris, Perancis, Spanyol, Amerika, dan sebagainya. Sebagian mereka
mempunyai concern terhadap dunia Timur
dan dikenal sebagai kaum orientalis.
Kaum orientalis ini
mengkaji dunia Timur (termasuk Islam) berdasarkan sudut pandang Barat. Di
samping itu, ada pula orang-orang Timur yang tertarik untuk mengkaji dunia Barat
dengan menggunakan sudut pandang ketimuran yang dinamakan dengan kaum
oksiden-talis. Baik para orientalis maupun oksidentalis melaksanakan tugas
mereka sesuai sudut pandang masing-masing terhadap objek yang mereka kaji
sehingga tidak jarang menghasilkan kesimpulan yang berbeda.
Dalam melaksanakan
tugasnya, para orientalis umumnya concern terhadap berbagai kerja intelektual
berikut:
[1] mengedit buku-buku
warisan Islam dan menerbitkannya, [2] mempelajari bahasa-bahasa daerah di
berbagai negeri timur, [3] mempelajari berbagai faktor sosial, ekonomi, dan
kejiwaan yang mempengaruhi perilaku suatu bangsa, [4] mempelajari berbagai
sekte dan aliran kepercayaan di suatu negara, baik yang moderat maupun yang
ekstrim, dan [5] meneliti berbagai peninggalan kuno di berbagai negara.[17]
Adapun nama-nama kaum
orientalis yang mempelajri islam di timur tengah tentunya pada bangsa arab yaitu ada Ignaz goldziher, Joseph Schacht dan
snouck horgronje. Tentunya para kaum orientalis dalam mempelajari islam bertujuan melemahkan agama
islam dengan cara melemahkan Al-quran
dan Hadist. Berikut biografi kaum orientalis :
1.
Ignaz Goldhizer
Nama lengkapnya
adalah Ignaz Goldziher. Dia lahir pada tanggal 22 Juni 1850 di kota Szekesfehervar,Hongaria.
Dia Berasal dari keluarga Yahudi yang terpandang dan memiliki pengaruh yang
sangat luas . Pendidikannya dimulai dari Budhaphes, kemudian melanjutkan ke
Berlin dan Liepziq pada tahun 1869. Pada tahun 1870 dia pergi ke Syria dan
belajar pada Syeikh Tahir al-Jazairi. Kemudian pindah ke Palestina, lalu
melanjutkan studinya ke Mesir, dimana dia sempat belajar pada beberapa ulama
al-Azhar.
Sepulangnya dari Mesir, tahun 1873, dia diangkat menjadi guru besar di Universitas Budhapest. Di Universitas ini, dia menekankan kajian peradaban Arab dan menjadi seorang kritikus Hadits paling penting di abad ke-19. Pada tanggal 13 Desember 1921, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di Budhaphes. Sebagai seorang orientalis yang gigih, ia berusaha menciptakan keresahan umat Islam, seperti menggoyang kebenaran Hadits Nabi Muhammad Saw, maka karya-karyanya menjadi sangat berbahaya, terutama berita kebohongan dan kebodohan yang dapat menciptakan permusuhan terhadap Islam.
Sepulangnya dari Mesir, tahun 1873, dia diangkat menjadi guru besar di Universitas Budhapest. Di Universitas ini, dia menekankan kajian peradaban Arab dan menjadi seorang kritikus Hadits paling penting di abad ke-19. Pada tanggal 13 Desember 1921, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di Budhaphes. Sebagai seorang orientalis yang gigih, ia berusaha menciptakan keresahan umat Islam, seperti menggoyang kebenaran Hadits Nabi Muhammad Saw, maka karya-karyanya menjadi sangat berbahaya, terutama berita kebohongan dan kebodohan yang dapat menciptakan permusuhan terhadap Islam.
2. JOSEPH SCHACHT TENTANG
OTENTISITAS HADIS NABI.
Sekilas Biografi Joseph
Schacht
Schacht lahir pada tanggal 15 Maret 1902, di Ratibor, Silesia yang dulu berada di wilayah Jerman dan sekarang masuk Polandia, hanya menyeberangi perbatasan dari Cekoslawakia. Di kota ini, ia tumbuh dan berkembang dan tinggal selama delapan belas tahun pertama dari kehidupannya. Schacht lahir dari keluarga yang agamis dan terdidik. Ayahnya Eduard Schacht adalah penganut katholik dan guru-guru anak-anak bisu dan tuli, ibunya bernama Maria Mohr. Pada tahun 1945, ia menikah dengan wanita Inggris yang bernama Louise Isabel Dorothy, anak perempuan Joseph Coleman.
Karirnya sebagai orientalis diawali dengan belajar filologi klasik, semitik, teologi dan bahasa-bahasa Timur di Universitas Berslaw dan Universitas Leipzig. Ia meraih gelar doctor (D.Phil) dengan predikat summa Cum Laude dari Universitas Berslauw pada tahun 1923, ketika berumur 21 tahun. Pada tahun 1947, ia menjadi warga Negara Inggris dan bekerja di radio BBC London. Meskipun ia bekerja untuk kepentingan Inggris tidak mau memberikan imbalan apa-apa padanya. Sebagai Ilmuan yang menyandang gelar Profesor Doktor, di Inggris, ia justru belajar lagi di tingkat Pasca Sarjana Universitas Oxford, sampai ia meraih gelar Magister (1948) dan Doktor (1952) dari Universitas tersebut. Pada tahun 1954, ia meninggalkan Inggris dan mengajar di Universitas Leiden Negeri Belanda sebagai guru besar samapai tahun 1959. Disini ia ikut menjadi supervisor atas cetakan kedua buku Dairaha al-Ma`rifah al-Islamiyah. Kemudian pada musim panas tahun 1953, ia pindah ke Universitas Columbia New York dan menjadi guru besar sampai ia meninggal dunia tahun 1969.
Schacht lahir pada tanggal 15 Maret 1902, di Ratibor, Silesia yang dulu berada di wilayah Jerman dan sekarang masuk Polandia, hanya menyeberangi perbatasan dari Cekoslawakia. Di kota ini, ia tumbuh dan berkembang dan tinggal selama delapan belas tahun pertama dari kehidupannya. Schacht lahir dari keluarga yang agamis dan terdidik. Ayahnya Eduard Schacht adalah penganut katholik dan guru-guru anak-anak bisu dan tuli, ibunya bernama Maria Mohr. Pada tahun 1945, ia menikah dengan wanita Inggris yang bernama Louise Isabel Dorothy, anak perempuan Joseph Coleman.
Karirnya sebagai orientalis diawali dengan belajar filologi klasik, semitik, teologi dan bahasa-bahasa Timur di Universitas Berslaw dan Universitas Leipzig. Ia meraih gelar doctor (D.Phil) dengan predikat summa Cum Laude dari Universitas Berslauw pada tahun 1923, ketika berumur 21 tahun. Pada tahun 1947, ia menjadi warga Negara Inggris dan bekerja di radio BBC London. Meskipun ia bekerja untuk kepentingan Inggris tidak mau memberikan imbalan apa-apa padanya. Sebagai Ilmuan yang menyandang gelar Profesor Doktor, di Inggris, ia justru belajar lagi di tingkat Pasca Sarjana Universitas Oxford, sampai ia meraih gelar Magister (1948) dan Doktor (1952) dari Universitas tersebut. Pada tahun 1954, ia meninggalkan Inggris dan mengajar di Universitas Leiden Negeri Belanda sebagai guru besar samapai tahun 1959. Disini ia ikut menjadi supervisor atas cetakan kedua buku Dairaha al-Ma`rifah al-Islamiyah. Kemudian pada musim panas tahun 1953, ia pindah ke Universitas Columbia New York dan menjadi guru besar sampai ia meninggal dunia tahun 1969.
Menurut kaum orientalis bahwa
Hadis merupakan salah satu unsur terpenting dalam Islam. Ia menempati martabat
kedua setelah Al-Quran dari sumber-sumber hukum Islam. Dalam artian, jika suatu
masalah atau kasus terjadi di masyarakat tidak ditemukan dasar hukumnya dalam
Al-Quran maka hakim ataupun mujtahid harus kembali kepada Hadis Nabi.
Dalam praktek, banyak ditemukan ketentuan masalah yang tidak dimuat dalam Al-Quran dan hanya didapatkan ketentuannya di dalam Hadis Nabi. Umpamanya aturan pelaksanaan shalat, puasa, zakat, dan haji yang merupakan rukun Islam tidak dijelaskan rinciannya dalam Al-Quran akan tetapi dijabarkan secara detail oleh Hadis Nabi SAW. Demikian pula aturan muamalat dan transaksi, pelaksanaan hukuman pidana, aturan moral, dan lainnya[18].
Dalam praktek, banyak ditemukan ketentuan masalah yang tidak dimuat dalam Al-Quran dan hanya didapatkan ketentuannya di dalam Hadis Nabi. Umpamanya aturan pelaksanaan shalat, puasa, zakat, dan haji yang merupakan rukun Islam tidak dijelaskan rinciannya dalam Al-Quran akan tetapi dijabarkan secara detail oleh Hadis Nabi SAW. Demikian pula aturan muamalat dan transaksi, pelaksanaan hukuman pidana, aturan moral, dan lainnya[18].
F. AKTUALISASI.
Setelah kita memahami dari syarah hadist tentang iman yaitu salah satunya
adalah bahwa islam itu dibangun atas lima landasan. Aktualisai hadist tersebut
selalu kita lakukan dalam kesehrian kita karena dari keseluruhan dari 5 pilar
adalah rukun islam yang harus kita tunaikan dengan khusuk.
Seperti syahadat sebagai kesaksian umat islam bahawa tiada tuhan selain
Allah dan Muhamad utusan Allah, bersyahadat dapat kita amalkan sewaktu-waktu
dalam beribadah bagi kita yang muslim, selain itu diucapakna oleh para mualaf.
Bersyahadat tidak hanya diucapkan secara lisan saja tetapi juga harus di
amalkan secara sungguh-sungguh, selanjutnya yang kedua yaitu sholat yang harus
kita kerjakan tanpa harus meninggalkannya selama 5 waktu dalam sehari, lebih
utama dengan berjamaah.
Zakat yang selalu dilakukan setiap bulan romadlon tiba, karena mempunyai
manfaat sebagai jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, selainitu juaga
sebagai peingjkatan ekonomi suatu Negara, zakat ditunaikan mulai awal romadlon
hingga akhir romadlon sebelum terbitnya matahari.
Selanjutnya yaitu puasa romadhon Puasa artinya menahan dari sisi syariaat maknanya berupa menahan segala hal
yang dapat merusak puasa dalam segala hal yang dapat merusak puasa dari sejak
imsak sampai matahari terbenam. Yang dikerjakan dalam bulan Romadlon.
Haji
merupakan piranti penting dalam bangunan islam. Ia dianggap jihad yang tidak
mengandung resiko oleh rosulullah shalallahu ngalaihi wasalam. Bahkan ketika
para wanita menghadap kepada beliau mengajukan keberatan akan banyaknya ibadah
yang bisa di akses oleh kaum laki-laki.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam pembahasan hadist Imam Al-Bukhari no
7 bahwa penulis berpendapat bahwa takhrij matan tentang buniyal islam merupakan
hadist yang kuat, karena telah diriwayatkan oleh Tirmidzi, An Nasa’i dan Shahih
Muslim dalalam kitabnya, sehingga hadist ini digolongkan tsiqah. Selain itu juga terdapat sabab wurud dari hadist
ini yang di perkuat dari Al-Quran surat Al-Bayyinah ayat 5.
Selanjutnya pada takhrij sanad yang bersambung
antara perawinya, sehingga dapat memberikan serta memperjelas kualitas sanadnya
ditambah lagi komentar para ulama terhadap para perawinya menjadika hadist
tersebut kuat / tsiqah.
Berdasarkan tahkrij matan dan tahkrij
sanadnya dikategorikan hadist yang
shahih bi ghoi rihi yang mana tidak bertentangan antar riwayat lainnya dan
saling menguatkan antar riwayatnya, selain itu juga diperkuat oleh ayat-ayat
dalam Al-Quran.
[1] https://kangmuz.wordpress.com/2011/07/29/asbabulwuruddalam-memahami-suatu-hadits/
[2] Terkadang objek yang hendak dijelaskan
tidak tampak. Untuk menampakkannya dibutuhkan kesungguhan, seperti pada waktu
mengikhtisharkan sesuatu atau menyimpulkan.
Lihat Abu Muhammad Abdul Mahdi. Metode
Takhrij Hadits. (Semarang: Dina
Utama. 1994). hlm. 2
[3] Mahmud at-Thahhan. Ushul at-Takhrij wa
Dirasat al-Asanid. (Kairo: Dar al-Kutub al-Salafiyah. 1982). hlm. 9
[4] Pengertian Takhrij Hadits ini dikemukakan sendiri oleh
al-Tahhan setelah menjelaskan beberapa pengertian takhrij sebelumnya.
Kata "jika diperlukan" dalam itu dikomentari oleh Said Agil
Al-Munawwar, yakni jika (hadits itu) tidak terdapat dalam kitab Shahih al Bukhari dan atau Shahih
Muslim. Sayyid Agil Husin Al-munawwar, Seminar/Perkuliahan Takhrij
al-Hadits. (Jakarta:Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, semester Genap,
1998). Lihat dalam Arifuddin Ahmad. Paradigma
Baru Memahami Hadits Nabi. (Jakarta :
Renaisan. 2005). hlm.131.
[5]
Pengertian Takhrij Hadits ini dikemukakan sendiri oleh al-Tahhan setelah
menjelaskan beberapa pengertian takhrij sebelumnya. Kata "jika
diperlukan" dalam itu dikomentari oleh Said Agil Al-Munawwar, yakni jika
(hadits itu) tidak terdapat dalam kitab Shahih
al Bukhari dan atau Shahih Muslim. Sayyid Agil Husin Al-munawwar, Seminar/Perkuliahan
Takhrij al-Hadits. (Jakarta:Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, semester
Genap, 1998). Lihat dalam Arifuddin Ahmad.
Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi. (Jakarta :
Renaisan. 2005). hlm.131.
[6]Arnold John Weinsinck. Al-Mu‟jam Al-Mufahras li Afazh Al-Hadits
Al-Nabawi. jilid 1.
(Madinah, Maktabah Brail,1936). hlm.221. Penyusunnya merupakan kalangan orientalis, yaitu A.J. Wensinck. Buku ini berfungsi sebagai kamus mencari hadits yang termuat dalam sembilan kitab hadits, yaitu Shahih al‑Bukhari dengan kode خ, Shahih Muslim dengan kode م, Sunan Abi Dawud dengan kode د, Sunan al‑Tirmidzi dengan kode ت, Sunan al-Nasa’i dengan kode ن, Sunan Ibn Majah dengan kode جه, Sunan al‑Darimi dengan kode دى, Musnad Ahmad Ibn Hanbal dengan kode حم dan Muwatha’ Malik dengan kode ط.
(Madinah, Maktabah Brail,1936). hlm.221. Penyusunnya merupakan kalangan orientalis, yaitu A.J. Wensinck. Buku ini berfungsi sebagai kamus mencari hadits yang termuat dalam sembilan kitab hadits, yaitu Shahih al‑Bukhari dengan kode خ, Shahih Muslim dengan kode م, Sunan Abi Dawud dengan kode د, Sunan al‑Tirmidzi dengan kode ت, Sunan al-Nasa’i dengan kode ن, Sunan Ibn Majah dengan kode جه, Sunan al‑Darimi dengan kode دى, Musnad Ahmad Ibn Hanbal dengan kode حم dan Muwatha’ Malik dengan kode ط.
[7]Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail
Al-Bukhari. Shahih Bukhari. (Beirut: Darul Fikri,
2003). hlm.12, hadits nomor 8. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Shahih Bukhari, nomor hadits : 7.
2003). hlm.12, hadits nomor 8. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Shahih Bukhari, nomor hadits : 7.
[8]Ibid., h. 517, hadits nomor 2157. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Shahih Bukhari, nomor
hadits: 2012
[9]Muhammad bin ‘Isa bin Saurah
al-Tirmizi. Sunan al-Tirmidzi, tahqiq al-Albani. (Riyad:
Maktabah al-Ma’arif, 1997 H). hlm. 45. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits: 19.
Maktabah al-Ma’arif, 1997 H). hlm. 45. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits: 19.
[13]Muhammad bin ‘Isa bin Saurah
al-Tirmidzi. Sunan al-Tirmizi, tahqiq al-Albani. (Riyad:
Maktabah al-Ma’arif, 1997 H). hlm.587, hadits nomor 2609. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits 2534
Maktabah al-Ma’arif, 1997 H). hlm.587, hadits nomor 2609. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits 2534
[14]Al-Hafidz Jalaluddin Asy-Syuyuti
As-Saidin al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa‟i, (Beirut:
Darul Ma’rifah, 1138 H), juz 8, hlm. 481-482, nomor hadits 5016. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Nasa’i, nomor hadits 4915.
Darul Ma’rifah, 1138 H), juz 8, hlm. 481-482, nomor hadits 5016. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Nasa’i, nomor hadits 4915.
[15]Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail
Al-Bukhari. Shahih Bukhari. (Beirut: Darul Fikri,
2003). hlm.12, hadits nomor 8. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Shahih Bukhari, nomor hadits : 7.
2003). hlm.12, hadits nomor 8. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Shahih Bukhari, nomor hadits : 7.
[16] Imam Annawawi Syarah arba’in
Nawawiyah, hadist-hadist akidah shahih Bukhari : ( hadist ke 3 bab rukun islam)
hal 6-9
[17] Prespektif orientalis tentang
hadist nabi :telaah kritis dan implikasinya terhadap ekstensi dan kehujjahan.
Pdf. Hal 15
[18] https://jurnalushuluddin.wordpress.com/2008/03/14/hadith-di-mata-orientalis-studi-kritis-atas-pemikiran-ignaz-goldziher-tentang-penulisan-hadith/
Komentar
Posting Komentar