takhrij hadist


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hadist
Islam di bangun atas lima landasan yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa , haji. Bahwa agama dibangun atas lima landasan tersebut atau disebut tiang penyangga, tanpa satupun tiang tersebut maka akan roboh bangunan/hancurnay agama.
Islam dibangun atas lima landasan terdapat pada hadist Imam Bukhori yaitu sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

(BUKHARI - 7) : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlon.

B.     Asbabul Wurud

Secara etimologis ” asbabul wurud ” merupakan susunan idlofah, yang berasal dari kata asbab dan wurud. Kata ” asbab adalah bentuk jama’ dari kata “sabab”, yang berarti segala sesuatu yang dapat mehubungkan pada sesuatu yang lain, (sunan turmudzi dalam kitab thoharoh: 1/151.) atau penyebab terjadinya sesuatu. Sedangkan kata “wurud” merupakan bentuk isim masdar dari waroda, yaridu, wuruudan yang berarti dating atau sampai .(Shohih Bukhori dalam kitabul ilmi: 1/23)
Secara terminologi menurut As-suyuti asbabul wurud diartikan sebagai berikut:
“sesuatu yang menjadi metode untuk menentukan maksud suatu hadits yang bersifat umum, khusus, mutlak, muqoyyad, dan untuk menentukan ada dan tidaknya naskh (pembatalan) dalam suatu hadits”.(Musnad Ahmad: VI/3)
Jika diteliti secara kritis pendefinisian As-suyuti lebih mengacuh kepada fungsi asbab wurudul hadits yakni, untuk menentukan tahsish dari yang ‘amm (umum), membatasi yang mutlak, serta untuk menentukan ada dan tidaknya naskh dan mansukh dalam suatu hadits dan lain sebagainya Nampaknya kurang tepat jika pendefinisian tersebut dipakai untuk merumuskan pengertian asbabul wurud. Menurut hemat saya perlu menoleh pada pendapat Hasbi as-sidiqi beliau mendefinisikan sebagai berikut1:
C.     “Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi SAW.menuturkan firmannya dan masa-masa Nabi SAW.menuturkannya”(Imam Malik, dalam kitab Al-jumah: 1/102).
D.    Sebagian ulama berpendapat bahwa pengertian asbabul wurud mirip dengan pengertian asbabul nuzul
E.     “Sesuatu baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan yang terjadi pada waktu hadits itu di firmankan oleh Nabi SAW”.(Al-bukhori kitab mawakit as-sholah: 1/346).
F.      Dari ketiga definisi tersebut bisa disimpulkan bahwa asbabul wurud adalah konteks historisitas, baik berupa peristiwa-peristiwa atau pertanyaan-pertanyaan yang lainnya yang terjadi pada saat hadits tersebut di sabdakan oleh Nabi SAW, dapat berfungsi sebagai acuan analisis dalam menentukan apakah hadits tersebut bersifat khusus, umum, mutlak atau muqoyyad, naskh atau mansukh dan lain sebagainya.
G.    Adapun sasaran dalam mempelajari ilmu ini adalah Setiap hadits yang secara tegas mempunyai asbabul wurud.
Menurut Imam  As-Suyuthi asbabul wurud itu dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu: 1) sebab yang berupa ayat al-Qur’an, 2) sebab yang berupa Hadits itu sendiri 3) sebab yang berupa sesuatu yang berkaitan dengan para pendengar dikalangan sahabat.

            Sebab-sebab turunnya hadist Bukhori  dalam kitab iman bab 2  ini karena adanya firman Allah swt dalam surat Al-Bayyinah  tentang dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat, sehingga muncullah sabda Rasulullah untuk memperkuat isi kandungan dalam Al-Quran surat Al-Bayyianah ayat ke 5. Berikut isi surat Al-Bayyinah :

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus[1].

C.    Takhrij Hadits
1.      Takhrij Matan
Pengertian takhrij hadits dapat ditinjau dari dua segi, yaitu dari segi etimologi dan terminlogi. Dari segi etimologi, kata takhrij تَخْرِيْج)  (berasal dari kata kharraja  (خَرَّجَ) yang berarti tampak atau jelas. Seperti:  خَرَّجَتْ خَوَارِجُ فُلاَنٍ artinya: "si fulan tampak kepandaiannya" dan خَرَّجَتِ السَّمَاءُ خُرُوْجًا artinya: "langit tampak cerah setelah mendung". [2]
            Sejalan dengan pendapat di atas, at-Thahhan[3] berpendapat bahwa takhrij ditinjau dari segi etimologi berarti al-istinbath (mengeluarkan), al-tadrib (meneliti, melatih dan memperdalam) dan al-tawjih (menerangkan, memperhadapkan dan menampakkan). Lebih lanjut, at-Thahhan berpendapat bahwa takhrij dari segi terminologi adalah:
D.    التخريج هوالدلا لةعلى موضع الحديث فىمصادرالاصلية التىاخرجته بسنده ثم بيان مرتبته عندالحاجة
E.      Artinya: "Takhrij ialah penunjukkan terhadap tempat hadits dalam sumber-sumber aslinya yang dijelaskan sanadnya dan martabatnya sesuai dengan keperluan[4] [5]


حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Setelah dilacak dalam Al-Mu’jam Al-Mufahras li Afazh Al-Hadits Al-Nabawi, hadits diatas terdapat dalam beberapa kitab berikut ini[6]:
1.    Shahih Bukhari kitab iman (1)  nomor urut bab 2, dan kitab buyu’ (jual beli) nomor urut bab 68
2.    Shahih Muslim nomor urut bab 19-22
3.    Sunan al-Tirmidzi kitab iman bab 3
4.    Sunan al-Nasa’i kitab iman nomor urut bab 13

Berikut yang menjadi penguat dari Hadist Imam Al-Bukhari tentang Buniyal Islam ( Islam dibangun atas lima landasan) tentang iman :

a.    Berikut ini bunyi hadits riwayat Bukhari
1)   Kitab iman nomor urut bab 2
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ[7]
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah saw. bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan".

2)   Kitab buyu’ (jual beli) nomor urut bab 68
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ سَمِعْتُ جَرِيرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ[8]
Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Isma'il dari Qais aku mendengar Jarir radliallahu 'anhu berkata: "Aku berbai'at kepada Rasulullah saw untuk bersyahadah Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan tho'at serta setia kepada setiap muslim".

b.    Berikut ini bunyi hadits dalam Shahih Muslim nomor urut bab 19-22
1)   Nomor 19
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ الْأَحْمَرَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ ابْنِ عُمَرَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ فَقَالَ رَجُلٌ الْحَجُّ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ لَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَالْحَجُّ هَكَذَا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ[9]
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair al-Hamdani telah menceritakan kepada kami Abu Khalid -yaitu Sulaiman bin Hayyan al-Ahmar- dari Abu Malik al-Asyja'i dari Sa'ad bin Ubaidah dari Ibnu Umar dari Nabi saw., beliau bersabda: "Islam dibangun di atas lima dasar: Yaitu agar Allah diesakan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji." Seorang laki-laki bertanya, 'Apakah haji dan (lalu) puasa Ramadhan'. Beliau menjawab: 'Tidak, puasa Ramadhan dan (lalu) haji.' Demikianlah aku mendengarnya dari Rasulullah saw."

2)   Nomor 20
و حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ عُثْمَانَ الْعَسْكَرِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّاءَ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ طَارِقٍ قَالَ حَدَّثَنِي سَعْدُ بْنُ عُبَيْدَةَ السُّلَمِيُّ عَنْ ابْنِ عُمَرَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ عَلَى أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَيُكْفَرَ بِمَا دُونَهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ[10]
Telah menceritakan kepada kami Sahl bin Utsman al-Askari telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakariya telah menceritakan kepada kami Sa'ad bin Thariq dia berkata, telah menceritakan kepadaku Sa'ad bin Ubaidah as-Sulami dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau berkata: "Islam didirikan di atas lima dasar: Yaitu agar Allah disembah dan agar selainnya dikufurkan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji di Baitullah, dan berpuasa Ramadhan."

3)   Nomor urut 21
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عَاصِمٌ وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ[11]
Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Mu'adz telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Ashim -yaitu Ibnu Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar- dari bapaknya dia berkata; Abdullah berkata, "Rasulullah sawbersabda: "Islam dibangun atas lima dasar: Yaitu persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan."

4)   Nomor urut 22
و حَدَّثَنِي ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حَنْظَلَةُ قَالَ سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ خَالِدٍ يُحَدِّثُ طَاوُسًا أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَلَا تَغْزُو فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْإِسْلَامَ بُنِيَ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ[12]
Dan telah menceritakan kepadaku Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Hanzhalah dia berkata, "Saya mendengar Ikrimah bin Khalid menceritakan hadits kepada Thawus bahwa seorang laki-laki berkata kepada Abdullah bin Umar, 'Mengapa kamu tidak berperang? ' Dia menjawab, 'Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah sawberkata: 'Sesungguhnya Islam didirikan di atas lima dasar: Persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah selain Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah'."

c.    Berikut ini bunyi hadits dalam Sunan al-Tirmidzi kitab iman nomor urut bab 3
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ سُعَيْرِ بْنِ الْخِمْسِ التَّمِيمِيِّ عَنْ حَبيِبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَفِي الْبَاب عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ هَذَا وَسُعَيْرُ بْنُ الْخِمْسِ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيِّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ[13]
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Su'air bin al Khims at Tamimi dari Habib bin Abi Tsabit dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah saw bersabda: "Islam dibangun atas lima dasar: persaksian bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah." Dan dalam bab tersebut (juga diriwayatkan) dari Jarir bin Abdullah. Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan shahih. Dan ia telah diriwayatkan dari bukan hanya satu jalan, dari Ibnu Umar, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalam seperti ini. Sedangkan Su'air bin al Khims adalah seorang yang tsiqah menurut ahli hadits. Abu Kuraib menceritakan kepada kami, Waki' telah menceritakan kepada kami, dari Hanzhalah bin Abi Sufyan al Jumahi, dari Ikrimah bin Khalid al Makhzumi dari Ibnu Umar dari Nabi saw., semisalnya." Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan shahih.'

d.   Sunan al-Nasa’i kitab iman dan syaratnya nomor urut bab 13
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْمُعَافَى يَعْنِي ابْنَ عِمْرَانَ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لَهُ أَلَا تَغْزُو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصِيَامِ رَمَضَانَ[14]
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin 'Ammar, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al Mu'afa yaitu Ibnu Imran dari Hanzhalah bin Abu Sufyan dari Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki berkata kepadanya; Kenapa kamu tidak berperang?" Ibnu Umar menjawab; "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: "Islam terbangun atas lima perkara, yaitu; bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, melakukan haji, dan berpuasa Ramadhan."



2.      Takhrij Sanad
Dalam analisis ini sebagai sampel, penulis menganalisa sanad hadits dari Shahih Bukhari kitab iman nomor urut bab 2
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ[15]
Sanad hadits jalur Ibn ‘Umar
Nama Perawi
Urutan sebagai perawi
Urutan sebagai sanad
Ibn ‘Umar
Periwayat I
Sanad IV
‘Ikrimah Ibn Khalid
Periwayat II
Sanad III
Hanzhalah bin Abi Sufyan
Periwayat III
Sanad II
Ubaidullah bin Musa
Periwayat IV
Sanad I
Bukhari
Periwayat V
Mukharij al-Hadits

Skema sanad hadits jalur Ibn ‘Umar

Rasulullah saw.,
Qala
‘an
‘an
Qala akhbarana
Haddatsana
Al-Bukhari
·      Perawi dan Penelitian Ulama Hadits
1.      Ubaidullah bin Musa
  • Nama Lengkap : Ubaidullah bin Musa bin Abi Al Mukhtar Badzam
  • Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan biasa
  • Kuniyah : Abu Muhammad
  • Negeri semasa hidup : Kufah
  • Wafat : 213 H
ULAMA
KOMENTAR
Yahya bin Ma'in
Tsiqah
Abu Hatim
shaduuq tsiqah
Al 'Ajli
Tsiqah
Ibnu Adi
Tsiqah
Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'Ats Tsiqat'
Ibnu Hajar
tsiqah berpemahaman syi'ah
Adz Dzahabi
Tsiqah

2.      Hanzhalah bin Abi Sufyan
  • Nama Lengkap : Hanzhalah bin Abi Sufyan bin 'Abdur Rahman bin Shafwan bin Umayah
  • Kalangan : Tabi'in (tdk jumpa Shahabat)
  • Kuniyah :
  • Negeri semasa hidup : Marur Rawdz
  • Wafat : 151 H
ULAMA
KOMENTAR
Ahmad bin Hambal
Tsiqah
Yahya bin Ma'in
tsiqah hujjah
Abu Daud
Tsiqah
Abu Zur'ah
Tsiqah
An Nasa'i
Tsiqah
Ya'kub Ibnu Syaibah
Tsiqah
Ibnu Madini
la ba`sa bih
Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ibnu Hajar al 'Asqalani
tsiqah hujjah


3.      ‘Ikrimah Ibn Khalid
  • Nama Lengkap : Ikrimah bin Khalid bn Al 'Ash
  • Kalangan : Tabi'in kalangan pertengahan
  • Kuniyah :
  • Negeri semasa hidup : Marur Rawdz
  • Wafat :
ULAMA
KOMENTAR
Ibnu Hajar
Tsiqah
Adz Dzahabi
tidak menyebutkannya
Abu Zur'ah
Tsiqah
An Nasa'i
Tsiqah
Yahya bin Ma'in
Tsiqah
Ibnu Saad
Tsiqah
Al Bukhari
Tsiqah
Ibnu Hibban
disebutkan dalam 'ats tsiqaat

4.      Ibn ‘Umar
  • Nama Lengkap : Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail
  • Kalangan : Shahabat
  • Kuniyah : Abu 'Abdur Rahman
  • Negeri semasa hidup : Madinah
  • Wafat : 73 H
  • Guru : Abu bakar, Nabi SAW
  • Murud : Bilal bin Abdullah ( Anaknya)

      
ULAMA
KOMENTAR
Ibnu Hajar Al Atsqalani
Shahabat
Adz Dzahabi
Shahabat

D. ANALISIS

Supaya mengetahui lebih jelas jalur periwayatan hadist, maka dalam pembahasan makalah ini penulis melakukan analisis dari takhrij matan dan sanad nya.  Pertama pada takhrij matan yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari tentang Buniyal Islam bahwa islam dibangun atas lima landasan ini dikatakan kuat karena dilihat dari para perawinya juga telah meriwayatkan tentang hadis ini seperiti Shahih  Muslim dalam kitabnya iman no urut 19-22, kemudian Tirmidzi dan An-Nasai sehingga dapat memperkuat hadist tersebut.

Kemudian setelah dilakukannya takhrij Matan, supaya mengetahui lebih jelas bagaimana jalur periwayatannya dari siapa hadist ini diriwayatkan maka dialakukanlah tahkrij sanad. Disitu akan dijelaskan alur perawi yang meriwayatkannya, apakah yang meriwayatkan hadist tersebut kuat hafalannya maka disitu akan diberikan komentar ulama, apakah perawi ini mempunyai guru dan murid yang sambung atau muttasil, oleh karena itu diberikan tahun kelahiran dan wafatnnya.

Setelah menganalisis dari hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari tenatang Iman, hadist ini dikategorikan sebagai hadist yang kuat/tsiqoh, karena ada 5 hadist yang memperkuat hadist tersebut dari para perawinnya selain itu dari segi sanad yang mutasil/sambung dan komentar mayoritas tsiqoh.




E.  SYARAH  HADIST


عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ


Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima (tonggak): Syahadat Laa ilaaha illa Allah dan (syahadat) Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, hajji, dan puasa Ramadhan”. [HR Bukhari, no. 8].

hadist ini merupakan penjelasan lebih lanjut dari hadist sebelumnya. Dimana islam di gambarkan secara aflikatif dengan ungkapan seperti engkau bersaksi... pada hadist ini islam di gambarkan sebagai bangunan kokoh dan tegak diatas landasan yang mantab. Landasan itu berupa syahadat, sholat , zakat, haji dan puasa romadhon.

            PENJELASAN
Islam dibangun atas lima pilar utama, bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah SWT dan Muhammad adalah utusanya. Landasan pertama bangunan islam adalah syahadat. Syahadat merupakan hal yang paling penting dalam islam, setidaknya ada beberapa alasan :
1.      Syahadat merupakan pintu masuk ke dalam bangunan islam itu islam.
2.      Syahadat adalah inti sari dalam ajaran islam
3.      Syahadat adalah dasar perubahan
4.      Syahadat adalah inti dakwah para rosul.
5.      Syahadat merupakan sumber keutamaan, berupa sorga bagi yang meyakini kandungannya
Kemudian, terdapat tujuh syarat utama yang merupakanunsur kesempurnaan Syahadat. Jika semua terwujud, akan melahirkan pribadi muslim yang mumpuni dan integral. Ketujuh syarat itu adalah :
1.      Ilmu tan menghilangkan kebodohan
2.      Keyakinan yang menghilangkan keraguan.
3.      Penerimaan yang menjauhkan penolakan
4.      Ketundukkan yang menjauhkan sikap acuh.
5.      Ikhlas yang melebur kesyirikan
6.      Ketulusan yang akan melebur kepalsuan
7.      Kecintaan yang menghapus kebencian.

         MENEGAKKAN SHOLAT
Sholat merupakan pilar kedua dalam islam. Urgensinya tidak lagi diragukan oleh umat muslim. Shalat memiliki tujuan utama berupa mencegah perbuatan keji dan munkar. Untuk bisa mewujudkan tujuan dasar ini shalat memeliki perangkat-perangkat berupa:

Syarat-syarat :
1.      Membersihkan anggota tubuh
2.      Menutup aurat dengan pakaian yang bersih
3.      Memilih tempat yang bersih
4.      Mengetahui masuk waktu sholat
5.      Menghadap kiblat

Rukun-rukun
1.      Niat
2.      Berdiri jika mampu
3.      Takbirotul ihrom
4.      Membaca Al-Fatihah
5.      Ruku
6.      Bangkit dari rukuk
7.      Sujud
8.      Sujud diantara dua sujud
9.      Tasyahud
10.  Bershalawat kepada nabi
11.  Mengucap salam
12.  Tumakninah
13.  Tertib[16]

MENUNAIKAN ZAKAT

Zakat adalah harta yang ditunaikan untuk kaum lemah. Zakat bertujuan untuk membersihkan noda-noda harta yang di miliki maupun mensterilkan sang pemberi
Zakat dari sikap bakhil. Tujuan ini terekam dalam firman Allah swt yang berbunyi : Ambilah zakat dari sbagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.

Menunikan zakat memiliki beberapa urgensi, di antaranya adalah :
·           Zakat merupakan sebab turunya rahmat Allah swt.
·           Zakat salah satu penyebab kembalinya kekuasaan islam kepangkuan umat muslim
·           Zakat merupakan penyebab masuknya seseorang kedalam sorga
·           Menghilangkan unsur kejelekan yang dimiliki suatu barang

MENUNAIKAN HAJI
Haji merupakan piranti penting dalam bangunan islam. Ia dianggap jihad yang tidak mengandung resiko oleh rosulullah shalallahu ngalaihi wasalam. Bahkan ketika para wanita menghadap kepada beliau mengajukan keberatan akan banyaknya ibadah yang bisa di akses oleh kaum laki-laki. Rasulullah alahi wasalam mengarahkan mereka kepada ibadah haji yang merupakan dianggap jihad oleh kaum wanita. Haji memiliki beberapa keutamaa :
1.      Termasuk rukun ibadah yang di utamakan
2.      Pembersih dosa dan kesalahaan
3.      Penyebab mendapatkan sorga Allah swt
4.      Merupakan jihadnya kaum lemah seperti wanita dan orang tua.

BERPUASA DALAM BULAN ROMADLON

Puasa artinya menahan dari sisi syariaat maknanya berupa menahan segala hal yang dapat merusak puasa dalam segala hal yang dapat merusak puasa dari sejak imsak sampai matahari terbenam. Keutamaan puasa dari segi kejiwaan dan kesehatan jasmani telah banyak di sorot oleh ilmuan. Sedang menurut islam sendiri keutamaan itu berupa :
1.      Puasa ditentukan oleh Allah pahalanya sendidri
2.      Merupakan perisai dari perbuatan zina
3.      Puasa  berperan sebgai pemberi syafaat pada hari kiamat
4.      Menjauhkan seseorang dari api neraka
5.      Puasa memiiki pintu khusus di surga yang merupakan jalor masuk bagi mereka yang gemar berpuasa. Pintu itu bernama Ar-Rayyan.

Demikian bangunan islam yang disarikan dari hadist di atas. Wallahu a’lam. Kita berharap agar Allah swt memudahkan kita untuk terus menerus komitmen dengan pilar-pilar agamanya. Amin


     E. KOMENTAR KAUM ORIENTALIS

Dalam tradisi keilmuan, khususnya dilihat dari aspek kawasan, terdapat dua kawasan, yaitu Barat dan Timur. Dunia Barat diwakili oleh negara-negara Barat seperti Belanda, Inggris, Perancis, Spanyol, Amerika, dan sebagainya. Sebagian mereka mempunyai  concern terhadap dunia Timur dan dikenal sebagai kaum orientalis.
Kaum orientalis ini mengkaji dunia Timur (termasuk Islam) berdasarkan sudut pandang Barat. Di samping itu, ada pula orang-orang Timur yang tertarik untuk mengkaji dunia Barat dengan menggunakan sudut pandang ketimuran yang dinamakan dengan kaum oksiden-talis. Baik para orientalis maupun oksidentalis melaksanakan tugas mereka sesuai sudut pandang masing-masing terhadap objek yang mereka kaji sehingga tidak jarang menghasilkan kesimpulan yang berbeda.
Dalam melaksanakan tugasnya, para orientalis umumnya concern terhadap berbagai kerja intelektual berikut:
[1] mengedit buku-buku warisan Islam dan menerbitkannya, [2] mempelajari bahasa-bahasa daerah di berbagai negeri timur, [3] mempelajari berbagai faktor sosial, ekonomi, dan kejiwaan yang mempengaruhi perilaku suatu bangsa, [4] mempelajari berbagai sekte dan aliran kepercayaan di suatu negara, baik yang moderat maupun yang ekstrim, dan [5] meneliti berbagai peninggalan kuno di berbagai negara.[17]
Adapun nama-nama kaum orientalis yang mempelajri islam di timur tengah tentunya pada  bangsa arab yaitu ada Ignaz goldziher, Joseph Schacht dan snouck horgronje. Tentunya para kaum orientalis dalam mempelajari islam bertujuan melemahkan agama islam dengan cara melemahkan  Al-quran dan Hadist. Berikut biografi kaum orientalis :
1.      Ignaz Goldhizer
Nama lengkapnya adalah Ignaz Goldziher. Dia lahir pada tanggal 22 Juni 1850 di kota Szekesfehervar,Hongaria. Dia Berasal dari keluarga Yahudi yang terpandang dan memiliki pengaruh yang sangat luas . Pendidikannya dimulai dari Budhaphes, kemudian melanjutkan ke Berlin dan Liepziq pada tahun 1869. Pada tahun 1870 dia pergi ke Syria dan belajar pada Syeikh Tahir al-Jazairi. Kemudian pindah ke Palestina, lalu melanjutkan studinya ke Mesir, dimana dia sempat belajar pada beberapa ulama al-Azhar.
Sepulangnya dari Mesir, tahun 1873, dia diangkat menjadi guru besar di Universitas Budhapest. Di Universitas ini, dia menekankan kajian peradaban Arab dan menjadi seorang kritikus Hadits paling penting di abad ke-19. Pada tanggal 13 Desember 1921, akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya di Budhaphes.  Sebagai seorang orientalis yang gigih, ia berusaha menciptakan keresahan umat Islam, seperti menggoyang kebenaran Hadits Nabi Muhammad Saw, maka karya-karyanya menjadi sangat berbahaya, terutama berita kebohongan dan kebodohan yang dapat menciptakan permusuhan terhadap Islam.
2.      JOSEPH SCHACHT TENTANG OTENTISITAS HADIS NABI.
      Sekilas Biografi Joseph Schacht
 Schacht lahir pada tanggal 15 Maret 1902, di Ratibor, Silesia yang dulu berada di wilayah Jerman dan sekarang masuk Polandia, hanya menyeberangi perbatasan dari Cekoslawakia.  Di kota ini, ia tumbuh dan berkembang dan tinggal selama delapan belas tahun pertama dari kehidupannya. Schacht lahir dari keluarga yang agamis dan terdidik. Ayahnya Eduard Schacht adalah penganut katholik dan guru-guru anak-anak bisu dan tuli, ibunya bernama Maria Mohr. Pada tahun 1945, ia menikah dengan wanita Inggris yang bernama Louise Isabel Dorothy, anak perempuan Joseph Coleman.
Karirnya sebagai orientalis diawali dengan belajar filologi klasik, semitik, teologi dan bahasa-bahasa Timur di Universitas Berslaw dan Universitas Leipzig. Ia meraih gelar doctor (D.Phil) dengan predikat summa Cum Laude dari Universitas Berslauw pada tahun 1923, ketika berumur 21 tahun.  Pada tahun 1947, ia menjadi warga Negara Inggris dan bekerja di radio BBC London. Meskipun ia bekerja untuk kepentingan Inggris tidak mau memberikan imbalan apa-apa padanya. Sebagai Ilmuan yang menyandang gelar Profesor Doktor, di Inggris, ia justru belajar lagi di tingkat Pasca Sarjana Universitas Oxford, sampai ia meraih gelar Magister (1948) dan Doktor (1952) dari Universitas tersebut. Pada tahun 1954, ia meninggalkan Inggris dan mengajar di Universitas Leiden Negeri Belanda sebagai guru besar samapai tahun 1959. Disini ia ikut menjadi supervisor atas cetakan kedua buku Dairaha al-Ma`rifah al-Islamiyah. Kemudian pada musim panas tahun 1953, ia pindah ke Universitas Columbia New York dan menjadi guru besar sampai ia meninggal dunia tahun 1969
Menurut kaum orientalis bahwa Hadis merupakan salah satu unsur terpenting dalam Islam. Ia menempati martabat kedua setelah Al-Quran dari sumber-sumber hukum Islam. Dalam artian, jika suatu masalah atau kasus terjadi di masyarakat tidak ditemukan dasar hukumnya dalam Al-Quran maka hakim ataupun mujtahid harus kembali kepada Hadis Nabi.
        Dalam praktek, banyak ditemukan ketentuan masalah yang tidak dimuat dalam Al-Quran dan hanya didapatkan ketentuannya di dalam Hadis Nabi. Umpamanya aturan pelaksanaan shalat, puasa, zakat, dan haji yang merupakan rukun Islam tidak dijelaskan rinciannya dalam Al-Quran akan tetapi dijabarkan secara detail oleh Hadis Nabi SAW. Demikian pula aturan muamalat dan transaksi, pelaksanaan hukuman pidana, aturan moral, dan lainnya[18].

F.     AKTUALISASI.
Setelah kita memahami dari syarah hadist tentang iman yaitu salah satunya adalah bahwa islam itu dibangun atas lima landasan. Aktualisai hadist tersebut selalu kita lakukan dalam kesehrian kita karena dari keseluruhan dari 5 pilar adalah rukun islam yang harus kita tunaikan dengan khusuk.
Seperti syahadat sebagai kesaksian umat islam bahawa tiada tuhan selain Allah dan Muhamad utusan Allah, bersyahadat dapat kita amalkan sewaktu-waktu dalam beribadah bagi kita yang muslim, selain itu diucapakna oleh para mualaf.
Bersyahadat tidak hanya diucapkan secara lisan saja tetapi juga harus di amalkan secara sungguh-sungguh, selanjutnya yang kedua yaitu sholat yang harus kita kerjakan tanpa harus meninggalkannya selama 5 waktu dalam sehari, lebih utama dengan berjamaah.
Zakat yang selalu dilakukan setiap bulan romadlon tiba, karena mempunyai manfaat sebagai jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, selainitu juaga sebagai peingjkatan ekonomi suatu Negara, zakat ditunaikan mulai awal romadlon hingga akhir romadlon sebelum terbitnya matahari.
Selanjutnya yaitu puasa romadhon  Puasa artinya menahan dari sisi syariaat maknanya berupa menahan segala hal yang dapat merusak puasa dalam segala hal yang dapat merusak puasa dari sejak imsak sampai matahari terbenam. Yang dikerjakan dalam bulan Romadlon.
Haji merupakan piranti penting dalam bangunan islam. Ia dianggap jihad yang tidak mengandung resiko oleh rosulullah shalallahu ngalaihi wasalam. Bahkan ketika para wanita menghadap kepada beliau mengajukan keberatan akan banyaknya ibadah yang bisa di akses oleh kaum laki-laki.













BAB III

KESIMPULAN

Dalam pembahasan hadist Imam Al-Bukhari no 7 bahwa penulis berpendapat bahwa takhrij matan tentang buniyal islam merupakan hadist yang kuat, karena telah diriwayatkan oleh Tirmidzi, An Nasa’i dan Shahih Muslim dalalam kitabnya, sehingga hadist ini digolongkan tsiqah. Selain itu juga terdapat sabab wurud dari hadist ini yang di perkuat dari Al-Quran surat Al-Bayyinah ayat 5.
Selanjutnya pada takhrij sanad yang bersambung antara perawinya, sehingga dapat memberikan serta memperjelas kualitas sanadnya ditambah lagi komentar para ulama terhadap para perawinya menjadika hadist tersebut kuat / tsiqah.
Berdasarkan tahkrij matan dan tahkrij sanadnya  dikategorikan hadist yang shahih bi ghoi rihi yang mana tidak bertentangan antar riwayat lainnya dan saling menguatkan antar riwayatnya, selain itu juga diperkuat oleh ayat-ayat dalam Al-Quran.


[1] https://kangmuz.wordpress.com/2011/07/29/asbabulwuruddalam-memahami-suatu-hadits/
[2] Terkadang objek yang hendak dijelaskan tidak tampak. Untuk menampakkannya dibutuhkan kesungguhan, seperti pada waktu mengikhtisharkan sesuatu atau menyimpulkan.  Lihat Abu Muhammad Abdul Mahdi.  Metode Takhrij Hadits.  (Semarang: Dina Utama. 1994). hlm.  2
[3] Mahmud at-Thahhan. Ushul at-Takhrij wa Dirasat al-Asanid. (Kairo: Dar al-Kutub al-Salafiyah. 1982). hlm. 9 
[4] Pengertian Takhrij Hadits ini dikemukakan sendiri oleh al-Tahhan setelah menjelaskan beberapa pengertian takhrij sebelumnya. Kata "jika diperlukan" dalam itu dikomentari oleh Said Agil Al-Munawwar, yakni jika (hadits itu) tidak terdapat dalam kitab  Shahih al Bukhari dan atau Shahih Muslim. Sayyid Agil Husin Al-munawwar, Seminar/Perkuliahan Takhrij al-Hadits. (Jakarta:Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, semester Genap, 1998). Lihat dalam Arifuddin Ahmad.  Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi. (Jakarta: Renaisan. 2005). hlm.131.

[5] Pengertian Takhrij Hadits ini dikemukakan sendiri oleh al-Tahhan setelah menjelaskan beberapa pengertian takhrij sebelumnya. Kata "jika diperlukan" dalam itu dikomentari oleh Said Agil Al-Munawwar, yakni jika (hadits itu) tidak terdapat dalam kitab  Shahih al Bukhari dan atau Shahih Muslim. Sayyid Agil Husin Al-munawwar, Seminar/Perkuliahan Takhrij al-Hadits. (Jakarta:Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, semester Genap, 1998). Lihat dalam Arifuddin Ahmad.  Paradigma Baru Memahami Hadits Nabi. (Jakarta: Renaisan. 2005). hlm.131.
[6]Arnold John Weinsinck.  Al-Mu‟jam Al-Mufahras li Afazh Al-Hadits Al-Nabawi. jilid 1.
(Madinah, Maktabah Brail,1936). hlm.221
. Penyusunnya merupakan kalangan orientalis, yaitu A.J. Wensinck. Buku ini berfungsi sebagai kamus mencari hadits yang termuat dalam sembilan kitab hadits, yaitu Shahih al‑Bukhari dengan kode خ, Shahih Muslim dengan kode م, Sunan Abi Dawud dengan kode د, Sunan al‑Tirmidzi dengan kode ت, Sunan al-Nasa’i dengan kode ن, Sunan Ibn Majah dengan kode جه, Sunan al‑Darimi dengan kode دى, Musnad Ahmad Ibn Hanbal dengan kode حم dan Muwatha’ Malik dengan kode ط.
[7]Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari. Shahih Bukhari. (Beirut: Darul Fikri,
2003). hlm.12, hadits nomor 8.  Lihat: Hadits Explorer, Kitab Shahih Bukhari, nomor
hadits : 7.
[8]Ibid., h. 517, hadits nomor 2157. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Shahih Bukhari, nomor hadits: 2012
[9]Muhammad bin ‘Isa bin Saurah al-Tirmizi. Sunan al-Tirmidzi, tahqiq al-Albani. (Riyad:
Maktabah al-Ma’arif, 1997 H). hlm. 45.  Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits: 19.
[10]Ibid.,  Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits: 20.
[11]Ibid.,  Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits: 21
[12]Ibid.,  Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits: 21.
[13]Muhammad bin ‘Isa bin Saurah al-Tirmidzi. Sunan al-Tirmizi, tahqiq al-Albani. (Riyad:
Maktabah al-Ma’arif, 1997 H). hlm.587, hadits nomor  2609. Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Tirmidzi, nomor hadits 2534
[14]Al-Hafidz Jalaluddin Asy-Syuyuti As-Saidin al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa‟i, (Beirut:
Darul Ma’rifah, 1138 H), juz 8, hlm. 481-482, nomor hadits 5016.
 Lihat: Hadits Explorer, Kitab Sunan al-Nasa’i, nomor hadits 4915.

[15]Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari. Shahih Bukhari. (Beirut: Darul Fikri,
2003). hlm.12, hadits nomor 8.  Lihat: Hadits Explorer, Kitab Shahih Bukhari, nomor
hadits : 7.
[16] Imam Annawawi  Syarah arba’in Nawawiyah, hadist-hadist akidah shahih Bukhari : ( hadist ke 3 bab rukun islam) hal 6-9

[17]  Prespektif orientalis tentang hadist nabi :telaah kritis dan implikasinya terhadap ekstensi dan kehujjahan. Pdf. Hal 15
[18] https://jurnalushuluddin.wordpress.com/2008/03/14/hadith-di-mata-orientalis-studi-kritis-atas-pemikiran-ignaz-goldziher-tentang-penulisan-hadith/

Komentar